Rabu, 30 Oktober 2013

Mengisi Ribuan Pulau Kosong

Mengisi Ribuan Pulau Kosong

Oleh Bahtiar Ginting
 
Pemerintah pusat akan menangani 88 pulau kosong di perbatasan demi kedaulatan bangsa dan kepentingan nasional, demikian keterangan Menteri Kelautan Indonesia.
Sementara masih terdapat ribuan pulau-pulau kosong di wilayah kedaulatan Indonesia, yang berjarak 1 mil dari pantai, lain lagi yang berjarak 200 mil untuk wilayah operasional ekonomi (ZEE). Luas daratan dari pulau-pulau kosong itu masih lebih besar dibanding luas daerah yang dihuni penduduk. Persoalan pokok dari kenyataan itu adalah karena orang Indonesia lebih senang tinggal di kota ketimbang bergulat di lokasi yang masih bernuansa ‘untung rugi’. Bukan berarti orang Indonesia tidak suka main ‘untung-rugi’ sejenis perjudian.
Kalaupun sekarang masih banyak orang yang tinggal di pedesaan itu pun karena kekurang-beranian ‘mengadu-nasib’ di perkotaan, padahal angan-angan orang desa adalah kepingin tinggal dan hidup di kota, menjadi pegawai negeri. Dan yang masih punya keberanian mengadu nasib adalah di kalangan anak muda. Maka pemuda-pemuda pedesaan, ketimbang mengurusi tanah pertanian yang statusnya tidak jelas mendingan jadi urban, di mana kemungkinan mengadu nasib masih ada.
Pemuda-pemuda pedesaan yang masuk ke kota, bukan hanya di Jawa, malah lebih hebat lagi yang di luar  Jawa, dengan tujuan selain kota besar di pulau Sumatera, Kalimantan atau Sulawesi, sasaran akhir adalah Jakarta. Kebulatan tekad untuk bisa tinggal di Jakarta adalah dorongan semangat yang diinspirasikan oleh anggapan bahwa Jakarta adalah segalanya. Bagaimana bisa terbentuk anggapan, bahwa Jakarta adalah segalanya ?
Persoalan kita memang di sini. Anggapan mulai terbentuk dari masa kanak-kanak. Sejak dari TK, SD dan selanjutnya sampai ke perguruan tinggi, anggapan senantiasa diarahkan kepada ‘menikmati kehidupan’. Kehidupan yang nikmat dipupuk dari kecil, adalah hidup yang senang. Hidup yang senang itu adalah ‘tidak ada pertarungan, tidak ada ketakutan, lalu di seberangnya ‘terdapat kecukupan’, terdapat keamanan. Tapi di atas itu, kenikmatan yang diharapkan adalah ‘kemuliaan’. Sementara kemuliaan dikaitkan dengan kekuasaan dan kekayaan. Kekayaan yang dapat dipamerkan (walaupun bukan di tempat pameran) ke tengah masyarakat, keindahan rumah-gedung, keistimewaan kendaraan, sehingga semua tetangga memuji keberadaan diri.
Terbentuknya anggapan umum, bahwa kehormatan adalah kekayaan, seakan tidak disadari oleh semua kalangan. Semua mass-media juga semua lembaga pendidikan tetap mengutarakan bahwa kekayaan adalah tanpa disadari adalah kehormatan. Sebuah contoh, seandainya pendapatan anggota DPR hanya Rp. 300.000 satu bulan, dan jika lebih dari itu dia ditangkap, maka tidak satu orang pun mau jadi anggota DPR. Padahal mewakili rakyat itu adalah kerja mulia. Anggapan seperti ini sudah menjadi kebudayaan bangsa kita. Maka amat masuk akal,  jika setiap pemuda, tidak terbuka nuraninya menjadi pionir, menjadi pelaku utama membuka lahan kosong di ribuah pulau yang belum berpenghuni. Ketidak-terbukaan hati nurani pemuda untuk terjun ke daerah terpencil, bukan saja didukung oleh ibu-bapaknya, tapi juga didukung oleh ahli-ahli pembangunan kita, yang memang didasari orientasinya ke medan kapitalis ala Barat. Ahli-ahli ekonomi kita yang memang berdasar kapitalisme mereka mau dibuka pulau-pulau kosong itu oleh investor asing, lalu nanti ke sana akan dikirim pemuda-pemuda sebagai buruh. Dan status pulau itu dikontrak 50 sampai 100 tahun.
Ada baiknya, jika pemimpin-pemimpin formal Negara kita sekarang ini mau mempelajari apa alasan Bung Karno menggerakkan Trikora di tahun 1958. Sebab dengan Trikora itu dihimpun 21 juta pemuda bergerak ke wilayah Timur, dengan alasan ‘membebaskan Irian Barat’. Padahal Bung Karno sudah memprogramkan pemuda itu tidak akan kembali ke daerah asal, melainkan akan menjadi pionir di pulau-pulau kosong di Wilayah Timur sana. Trikora dilanjutkan dengan Dwikora, dengan alasan ‘menolak proyek Malaysia’ padahal pemuda-pemuda sukarelawan tadi diposkan mengisi pulau-pulau kosong yang ada di sekitar Kalimantan, seperti Pulau Karimata, dll. Tapi program strategis Bung Karno dimaklumi oleh Nekolim, dianggap berbahaya, maka ditugaskan Suharto menghantam Bung Karno, sebelum proyek pengisian pulau-pulau kosong nasional dipenuhi oleh pemuda pionir.
Andaikata tahun 2003 ini, pemimpin-pemimpin Indonesia, baik yang di partai politik, di legislatif atau di eksekutif menyadari bagaimana pentingnya posisi pulau-pulau kosong itu, baik dari sektor ekonomi, terutama sektor pertahanan, dikelola dengan baik, maka anggapan selama ini bisa diubah secara radikal, sehingga muncul anggapan baru, bahwa menempati pulau-pulau kosong itu adalah kebajikan.
Kisah Sipadan dan Ligitan, hendaknya menjadi perhatian orang yang duduk sebagai pemimpin itu, jangan terulang kepada pulau-pulau yang berbatasan dengan Negara lain. Soalnya menteri kelautan sudah menyatakan bahwa pulau pelapis dikuasai Thailand, Pulau Miangas dikuasai Filipina. Bagaimana pun rakyat Indonesia, jika nanti sudah kembali kepada karakter dasar yang revolusioner, tidak membiarkan Sipadan-Ligitan dibawah kedaulatan Negara lain, begitu juga pulau-pulau lainnya. Bahwa untuk itu nanti, akan melalui proses semacam Trikora, hendaknya dari sekarang dipertimbangkan. Ada baiknya pemimpin-pemimpin formal kita lebih memikirkan kepentingan bangsa, ketimbang bertarung memperebutkan kursi presiden.
Seperti Amerika Serikat, yang di abad ke-15 adalah tempat pembuangan narapidana-narapidana dari Eropa, tapi kemudian si narapidana itu menjadi bangsa dan memproklamasikan Negara Amerika tahun 1776. Contoh sejarah ini ada baiknya dipertimbangkan oleh pemimpin-pemimpin Negara kita sekarang ini, bagaimana caranya mengsi pulau-pulau kosong yang ribuan jumlahnya itu, bagi kesejahteraan penghuni dan keamanan banga.
Jika misalnya, para penganggur perkotaan sekarang ini, yang jumlahnya juga lebih dari satu juta dikoordinir dan secara bertahap dan tekun di tahun pertama dikirim 10.000 pasang ke pulau kosong, kemudian tahun berikutnya 10.000 pasang lagi, maka pengangguran di kota secara bertahap akan habis. Sementara pejuang pionir kepulauan samakin banyak. Program seperti ini dapat dilanjutkan sehingga tidak satu pulau pun di wilayah kedaulatan Indonesia yang kosong. Tapi tentu saja program seperti ini, dananya tidak mungkin diberi pinjam oleh IMF, melainkan kita sesama rakyat Indonesia yang bergotong-royong menghimpun dana. Dan percayalah program ini pasti akan dikerjakan, jika tidak oleh pemimpin formal yang sekarang, nanti dalam belasan tahun mendatang, sudah akan ditangani oleh pemimpin yang revolusioner.
Bagin
29 Mei 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar