Rabu, 30 Oktober 2013

Indonesia Kini dan Masa Depan

Indonesia Kini dan Masa Depan

Bagin
 
     Indonesia yang kini berada di hadapan kita, betapapun adalah produk dari masa lampau, yang bagaimana pun ada yang menyenangkan, selain juga ada yang tidak menyenangkan, disertai produk dari kekinian yang masih berkembang. Secara data, Indonesia Merdeka sudah tahun ke-62 (sekarang tahun ke-68), satu momen yang cukup lumayan untuk ditelaah kembali, baik dan salahnya kinerja bangsa ini.  Lalu dari hasil telaahan itu dapat kita tarik kesimpulan mana yang baik dan benar yang salah atau keliru. Baru kemudian dilanjuti dengan gagasan ke masa depan, yang berkaitan dengan karya masa lampau.
Apa yang sedang ada di masa kini, tentang ketatanegaraan, tentang kemasyarakatan, tidak bisa dilepaskan dari masa lampau. Masih adanya sisa-sisa G 30 S/PKI yang membayangi ketata-masyarakatan, adalah fakta yang masih hidup di masa kekinian. Masih adanya sekitar 30% jumlah pengangguran di Negara kita, masih adanya 70% rakyat yang penghasilannya di bawah penghasilan yang cukup, serta sektor perekonomian yang masih terkeok-keok di bawah kekuatan Negara asing, adalah data yang memperlihatkan masa kekinian yang menyakitkan hati.
      Berbarengan dengan itu, kinerja kaum politisi negeri ini, baik yang di DPR maupun yang di pemerintahan, yang lebih banyak mengutamakan kepentingan diri sendiri, adalah bukti tidak jalannya sikap “demi kepentingan umum”. Sementara karakter bangsa kita masih suka mencontoh tingkah laku “bapak-bapak” pemimpin. Maka itu dari kalangan rakyat bawahan pun timbul kegairahan “meniru bapak-bapak pemimpin”, dan mengutamakan kemampuan dana sekecil apa pun untuk tampil menjadi kelihatan pantas.
Bersamaan dengan itu, proyek pembangunan di pedesaan sudah menghadapi kekurangan lahan pertanian, mengantar anak-anak muda bergerak ke arah perkotaan dan malu kembali ke desa, walau di kota tida ada sesuatu pekerjaan.
      Keadaan seperti itu sangat dipahami oleh pengusaha, dan menampung pekerja yang asal pedesaan, dengan memberikan upah serendah-rendahnya. Walaupun dibayar sangat rendah, tapi rakyat asal pedesaan tetap bertahan di perkotaan, malah ada yang terjerumus menjadi maling. Maka masyarakat Indonesia kini, berada pada posisi yng paling ‘niedergang’, yaitu sangat terbelakang, baik yang di pedesaan dan juga di perkotaan.
     Keadaan masyarakat Indonesia ini, sudah berjalan lebih lama dari usia Indonesia Merdeka, artinya tidak ada perubahan dari masa penjajahan Belanda-Jepang dan Indonesia Merdeka sudah 62 tahun. Tapi tidak ada gerakan perlawanan dari massa rakyat, juga partai politik pun hanya diam seribu bahasa. Soalnya partai politik pun, sasarannya hanyalah untuk menjadi anggota legilatif atau jadi pejabat, karena memang partai politik produk Orba dan Orla sekarang, bukan proyek “pencerminan dari hati nurani rakyat”. Jadi kaum politisi dan juga kaum intelektual tidak berjuang untuk memperbaiki nasib rakyat.
Indonesia Masa Depan
    Belajar dari pengalaman, walau itu bukan pengalaman langsung melainkan pengalaman kelompok bekas-bekas Orde Baru, maka kelompok masa depan rakyat Indonesia harus berani menanggalkan kejelekan-kejelekan masa lampau itu. Kemudian membangun kinerja baru yang keras dengan bersikap:
   1.       Jangan menyentuh perilaku Orde Baru dan pelaku-pelaku setelah Orde Baru, produk tahun 1970 sampai tahun 2005 (sampai sekarang-red).
   2.       Bangkitkan kesadaran baru yang memandang jauh ke masa depan
Dengan ketentuan pertama:
   a.       Tinggalkan sikap mengikuti Orde Baru dan pengikut-pengikutnya
   b.      Bentuk gagasan yang penuh dengan kemajuan, cara berpikir, cara bekerja dan cara membagi hasil
   c.       Boleh meninjau ke luar negeri, namun tetap berpusat pada kepribadian.
Kedua:
   a.       Bangkitkan rasa persaudaraan sesama kalangan muda di seluruh Tanah Air.
   b.      Kerjakan apa yang ada di dalam pikiran dengan rasa merdeka dan bebas dari campur-pikiran dari  luar.
   c.       Mulai kerjakan sektor pertanian
    Dengan ketentuan tersebut di atas, dalam pelaksanaan bisa ditambahi, namun yang paling utama adalah perilaku dengan semangat “Bangkitkan Kesadaran Baru Yang Memandang Jauh ke Masa Depan”.
   Dalam membangkitkan kesadaran  baru tersebut para pemuda terutama harus bersikap: “Tidak Ada Hari Esok Tanpa Ada Hari Ini, Dan Tidak Ada Hari ini Tanpa Ada Hari Kemarin.”.
Membangun kesadaran baru rakyat dengan mengutamakan pada:
  1.       Membangun kembali posisi rakyat yang telah terlantar ratusan tahun.
  2.       Membangun kembali semangat rakyat untuk berani menjalankan kebenaran.
  3.       Harus ada keberanian ‘pemuda-pemuda pelopor’ menyatukan diri dengan rakyat, agar si rakyat bisa menyatu dengan kebangkitan.
Faktor ketiga ini “Keberanian Pemuda-Pemuda Pelopor Menyatukan Diri Dengan Rakyat”, adalah kunci keberhasilan “Membangun Indonesia Ke Masa Depan”, yang tumbuh di atas ketumbuhan bangsa sendiri.
(Bagin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar