Senin, 02 Juli 2012

HAJI MUHAMMAD MISBACH : TOKOH ISLAM REVOLUSIONER


BERDIKARI No.2. Tahun November Desember 2000

HAJI MUHAMMAD MISBACH :
TOKOH ISLAM REVOLUSIONER
Oleh : Yana SP

“Orang Islam yang tidak menyetujui dasar-dasar Komunis bukan muslim Sejati, yang mengaku dirinya islam tidak setuju adanya Komunisme, saya berani mengatakan bahwa bukan islam yang sejati …, Begitupun sebaliknya, kawan kita yang mengaku dirinya sebagai Kumunis akan tetapi mereka masih suka mengeluarkan pikiran yang bermaksud melenyapkan agama islam mereka bukanlah komunis yang sejati”

         H.M Misbach, kelahiran solo dari keluarga padegelang batik. Lahir pada tahun 1876  dengan nama “Achmad”,  nama nabi Muhammad S.A.W yang berarti memberi gambaran bahwa orang tuanya adalah sosok yang taat terhadap ajaran agama islam. Lingkungan religius, Kauman solo  disana mengenyam pendidikan pesantren. Sejak masa remaja telah menunjukan  kegemarannya mendirikan model – model perkumpulan Selauctan Arab, Laras, Madio, Tresno Soedoro, Pemain anak – anak “Djenggi” dan “Opera Drama”.
Misbach tampil kemudian sebagai mubaligh. Takasi Sirashi mengungkap,dalam buku jaman bergerak mengungkap, “H.M Misbach adalah mubaligh berpendidikan pesantren, realtif tidak di kenal dikalangan pergerakan, tidak dapat membaca bahasa Belanda, tetapi mampu berbahasa Arab, dam tidak punya teman – teman Belanda. Misbach pertama kali tampil sebagai tokoh pergerakan kaum muda islam di Surakarta pada pertengahan 1910-an. Bapak Misbach bukan pejabat keagamaan. Namun karna lahir dasar besar dikawasan yang sangat religius di Surakarta, maka ia menghabiskan sebagian besar masa seklolahnya di pesantren, pun sempat belajar disekolah Bumi Putera pemerintah angka dua” Gambaran sebagai sosok religius, tampil sebagai pemuka anak – anak dilingkungan ia bermain merupakan tempat mendidik dirinya untuk tampil sebagai mubaligh sekaligus terjun dalam lapangan pergerakan. Proses pergaulan hidupya dengan tokoh – tokoh pergerakan baik pergaulannya dengan kalangan SI yang menganut Islam sebagai azas perjuangan dan juga dengan tokoh – tokoh pergerakan yang menganut ajaran Marxisme sebagai dasar pergerakan. Tambahan pula kondisi rakyat Indonesia,yang teramat melarat disebabkan penghisapan kolonisme imperialsme bangsa asing sehingga benih – benih perlawanan rakyat tumbuh secara radikal, sehingga memperngaruhi gerak langkah tokoh – tokoh pergerakan bangsa, disnii H.M Misbach terobsesi oleh kondisi dan situasi rakyat pribumi yang menutntut. Pandangan Terhadap situsasi H.M Misbach yang hidup dalam situasi kekuasan kolonialisme dan imperialism yang dibantu oleh para ambtenar pribumi, sangat menyengsarakan rakyat bumi putra, Ambtenar adalah kelanjutan dari system feodalisme yang sengaja dipelihara oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi kaki tangan pemerintah dan kaum modal (kapitalis) Internasional: Misbach berpendapat: “Sifat keadaan tanah Jawa semakin lama perikehidupan tanah rakyat amatlah sukarnya,fikiran orang yang selalu berjenis –jenis merasakan rupa – rupa hal yang menderita sebagai masuk dalam sesak lantaran mana tenang kehidupannya dan kemerdekaan atau agamnya sama sekali tidak dapat perlindungan yang cukup semata – mata ialah tindakan yang ada pada kita.” ( Islam Bergerak,No.8,10 Maret 1919). Sejak Opendeur Politik 1905 mulai dijalankan ditanah air Indonesia,capital internasional masuk ke Indonesia Kapital Jerman, Prancis, Amerika, Inggris, Jepang, Belanda, Menganut – Nganut dan menghisap segala, kehidupan rakyat. Akibatnya adalah kesengsaraan dan kemelaratan menimpa kehidupan dicukupi dengan sebenggol sehari,dengan upah yang rendah dan harus membayar pajak. H.M Misbach menjelaskan bahawa semua kesemhsaraan yang menimpa rakyat bumi putera itu sebabnya adalah penjajahan,rakyat menjadi budak. Rakyat jajahan itu, ialah boleh diartikan rakya perudakan : segala peraturan menurut sebagaimana khendak tuanyam baik yang beragama Budha,Kristen, Islam dan lain sebagainya. Sekalipun peraturan itu banyak juga yang tiada sesuai dengan khendak agamanya, Di teruskanlah dan malah wajib mereka itu melakukanya. (Islam Bergerak,No32,20 November1922). Sistem dan peraktek penjajahan memperbudak bangsa Indonesia. Sistem penjajahan ini timbul sebagai kapitalisme ;dalam hal ini Misbach menjelaskan : “…dan semua itu semua laba dan tamaknya kapitalisme,sebabilah tang menggunaka tipu muslihatnya dengan jalan memfitnah, menindas, menghisap dan lain – lain perkataan pula” menyerukan kerukunan Bumi Putera, Dalam tulisan yang berjuduk “Orang Bodoh juga makhluk tuhan,maka fikiranyang tinggi juga bisa di dalam otaknya”, Misbach tidak meragukan akan kesadaran rakyat, dari semua tindasan dan hisapan stelsel kolonisme dan imperialisme, dengan ikhtiar apa rakyat bumi putera akan membebaskan diri semua fitnah yang diakibatkan kolonialisme dan imperialism itu. Atas pertanyaan diatas Misbach menjawab pertanyaan itu sebagai berikut. “…bila kita belum bersatu hati (rukun) niscayalah barang apa yang kita khendaki akan jatuh sia – sia”.


 Keyakinan pendapatnya ini,lahir sebagai satu perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah Belanda yang selalu memcah belah rakyat bumi putera (Bangsa Indonesia). Oleh karena itu membangun kerukunan rakyat bumi putera, menuntut perjuangan tersendiri,sebab “Akan tetapi gampanglah kita berkata, padahal rukun itu yang terlampaua susah didapatnya karena sebelum kita bumi putera bergaung lantaran tertutup oleh orang yang mempermainkan kaum kita, lebih dulubenih persatuan dan benih bercerai – berao sudah dimainkan oleh fihak yang sengaja memuterakan anak Hindia,agar supaa anak Hindia tidak bisa rukun, atau selamanya biar berselisihan sama dengan bangsa – bangsa yang tinggal ditumpah darah kita Hindia”. (Islam Bergerak, No.8, 10 maret 1919). Syarat dalam perjuangan merebut kemerdekaan menurut pendapat Misbach adalah membangun kerukunan bersama rakyat bumi putera (bansa Indonesia). Pandangan Mengenai Islam sangat mempengaruhi perjuangannya dalam menghadapi kedzoloiman dan fitnahan system kolonialisme. Oleh karenanya Islam menjadi spirit untuk membebaskan rakyat yang terjajah. Islam juga merupakan spirit membentuk kebersamaan hidup manusia. Islam dalam pandangan H.M Misbach adalah satu aturan (Nasehat) untuk membangun keselamatan manusia. Semamsa dirinya terjun dlam kenca perjuangan rakyat banyak tokoh yang pesimis dengan Islam yang dijadikan sebagai dasar pergerakan, hal itu di jawab olehnya dalam tulisan – tulisannya di “Medan Moeslimin” dan “Islam Bergerak”. Benar tidaknua islam dalam praktek,itu tergantung kepada yang menjalankannya, tatapi Islam itu sendiri adalah Benar dan mudah diterima oleh akal “Bahwa Agama Islam itu mudah dan benar sekali bagi seorang yang berdasarkan suci dan berfikiran jujur,dan sebab – sebabnya agama Islam mudah dijalankan bagi orang yang berfikiran, Karena agama Islam Cocok dengan akal fikiran”. (Medan Moeslimm, No.12, 1 Oktober 1923). Atas dasar pandangan Misbach, tentang Islam sebagai sisitem yang mencari keselamatan dia memandang bahwa untuk membangun system itu, pertama tama mencari sebab – sebab yang merusak keselamatan itu, sebab menurutnya setiap kejadian ada sebab musibahnya. Bahkan disini ada ayat yang menjelaskan ini. “ Saban – Saban ada satu kejadian mesti ada sebabnya” Al Qur’an juz 11 ayat 84. Kandungan ayat diatas member keyakinan pada diri H,M Misbach bahwa islam mengajarkan “Historis materialistis”, Bahkan islam menurutnya : “Menurut Ayat yang kami petik diatas,teranglah ; yang historis materialistis komunis ada termasuk dalam aturan Islam”. (Ibid). Agama Islam sebagai satu ajaran bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia dengan khaliq (ALLAH), tetapi terutama mengatur hubungan manusia dengan manusia, yaitu keselamatan umum (Masyarakat). Dalam hal inilah, ada dasar – dasar kecocokan antara islam dan komunis, Islam itu sendiri mengandung unsure komunis menurut Misbach : “. . .dan yang disebut Islam, yaitu orang yang menjalankan perintah tuhan yang maha kuasa,sebagaimana adanya kaum komu0niesten, yaitu orang yang menjalankan ilmu komunis kami yakin dan mengetahui betul termasuk dalam ceritanya agama islam”. (Medan Moeslimin,No. 19,1 Oktober 1923). Oleh karena itu, orang islam menjalankan ke- Islam-annya yang demikian itu, tidak memungkinkan adanya permusuhan kekuatan islam dengan lain – lainnya; “Begritu juga sikap kaum islam tentang kekerasan memusuhi semua yang membikin sengsara kepada manusia, tidaklah salah dengan komunis,yakin musuh komunispun menjadi musuh kaum islam juga”( Ibid). Tentu saja pandangan H.M Misbach yang demikian itu,banyak mendatangkan pertentangan baik darikalangan Islam sendiri dan juga dari oihak yang mengaku Komunis. Sehingga melahirkan perdebatan – perdebatan lebih tajam lagi,mempertanyakan tentang islam yang menghalangi pergerakan politik, dan menghalangi lapangan pergerakan komuni, sebaliknya kalangan Islam sendiri menentang pendapat H.M Misbach terbukti diterapkan disiplin partai dalam SI dalam tahun 1923. Dengan diterapkannya disiplin tersebut terjadilah perpecahan yang besar dikalangan kekuatan rakyat bumi putera dan hal itu tentu saja sangat ditunggu oleh pemerintah colonial belanda karena menguntungkan posisi kekuasannya kecamaan tersebut dilontarkan pada kesempatan PKH ( Partai Komunis Hindia,sebelum berganti PKI). Kongres di bandung 4 Maret 1923, ia mengecam orang – orang SI yang anti Komunis. Misbach menjawab pertentangan dan kesangsian itu semua, dalam “Medan Moeslimin” No. 10 tahun 1926. Dalam pembuangannya di manokuari (Irian Jaya), dalam tulisan itu ia menjelaskan : “ Hai saudara – saudara ! saya seorang yang mengaku setia pada agama, dan juga masuk dalam lapangan pergerakan Komunis , dan  saya mengaku juga barulah tambah terbukanya fikiran saya dilapangan kebenaran atas perintah agama islam itu, tidak lain ialah dari sesudah memperlajari ilmu komunisme hingga sekarang saya beranii mengatakan juga bahwa kalutnya keselamatan dunia tidak lain hanya dari jahanam kapitalisme dan imperialism yang berbudi buas itu saja, bukannya keselamatan dan kemerdekaan kita hidup dalam dunia ini saja hingga kepercayaan kita hal agama pun orang menghalangi agama islam itu pun bukan komunis sejati”. Hal ini pun jelaskannya, “Begitu juga sekalian kalau kita mengaku dirinya sebagai komunis, akan tetapi mereka masih suka mengeluarkan fikiran yang bermaksud akan melenyapkan agar islam, itulah saya berani mengatakan bahawa mereka bukannya komunis yang sejati atau mereka belum mengaku dirinya islam tatapi tidak setuju adanya komunisme,saya berani mengatakan bahwa ia bukan islam yang sejati, atau belum mengerti tentang dudukannya Agama Islam”. (Medan Moeslimin No.1 tahun ke XI, 1 Januari 1925).